BANDUNG, PENAPENDIDIKAN.ID – Sosok Bujangga Manik kembali mendapat sorotan sebagai figur yang memiliki warisan pemikiran dan nilai pendidikan yang tetap relevan bagi dunia pendidikan masa kini. Tokoh bangsawan Sunda dari Kerajaan Pakuan tersebut dinilai tidak hanya meninggalkan catatan sejarah, tetapi juga teladan tentang semangat menuntut ilmu, membangun karakter, dan memperkaya peradaban.

Hal itu disampaikan Asisten Profesor Teknik Kimia dan Lingkungan University of Nottingham, Prof. Bagus Muljadi, saat menjadi pembicara dalam Simposium Adaptasi Iklim dan Keberlanjutan Jawa Barat yang berlangsung di Gedung Bale Pakuan, Kota Bandung, Jumat (26/6/2026).

Dalam pemaparannya, Prof. Bagus menjelaskan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik yang terdokumentasi dalam naskah kuno dan kini tersimpan di Bodleian Library, Oxford, menggambarkan seorang bangsawan Sunda abad ke-15 yang memilih meninggalkan kenyamanan kehidupan istana untuk mengembara ke berbagai daerah di Nusantara demi memperluas wawasan dan mencari ilmu.

Menurutnya, perjalanan tersebut menjadikan Bujangga Manik sebagai salah satu pelopor intelektual Sunda yang kembali ke tanah kelahirannya dengan membawa pengetahuan baru.

"Bujangga Manik adalah diaspora pertama orang Sunda yang pulang ke tanah leluhurnya membawa ilmu," ujar Prof. Bagus.

Ia menambahkan, catatan perjalanan itu tidak hanya merekam rute pengembaraan, tetapi juga menyimpan informasi penting mengenai batas-batas wilayah, nama-nama tempat, kekayaan flora, kesenian, strategi pertahanan, hingga pandangan hidup masyarakat pada masanya. Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi keilmuan masyarakat Sunda telah berkembang sejak berabad-abad silam.

Prof. Bagus menilai nilai-nilai yang diwariskan Bujangga Manik masih sangat relevan untuk diterapkan dalam sistem pendidikan saat ini. Pendidikan, menurutnya, tidak hanya bertujuan mencetak individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga membentuk karakter, pola pikir, dan kepribadian peserta didik.

Sebagai perbandingan, ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Inggris tetap menjadikan budaya sebagai fondasi utama pembelajaran. Sebelum mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi, peserta didik dibekali kemampuan dasar melalui grammar, logic, dan rhetoric agar memiliki kecakapan berbahasa, berpikir logis, serta mampu menyampaikan gagasan secara sistematis.

Mengutip filsuf Ludwig Wittgenstein, Prof. Bagus mengatakan bahwa kemampuan berbahasa tidak dapat dipisahkan dari kemampuan berpikir.